BUDAYA MAKAN KETUPAT MASYARAKAT INDONESIA



Jawa adalah salah satu Pulau di Indonesia yang memiliki segudang adat istiadat dan kebudayaan, karena Jawa adalah pusat pemerintahan di Indonesia sejak jaman penjajahan. Budaya Jawa sangat beragam dan unik, terutama di tempat lahir saya Desa Karang Pasar Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan. Disetiap daerah memang mempunyai kebudayaan sendiri walaupun masi sama se kabupaten. Dan benar kata pepatah “ Desa mawa cara, Negara mawa tata “ yaitu desa mempunyai adat sendiri, begitupun dengan sebuah Negara pasti memiliki aturan atau hukum tertentu. Peribasaha ini juga mengingatkan kepada para pendatang yang tinggal di daerah lain. Di mana pun berada, seseorang harus pandai-pandai memahami, menghormati, dan menyesuaikan diri dengan adat-istiadat setempat. Seperti peribahasa dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Mana yang disetujui digunakan, mana yang tidak disepakati jangan diterapkan. Meskipun demikian, janganlah melecehkan nilai-nilai yang tidak disetujui, apalagi bermaksud mengubahnya secara drastis. Sebab, perbuatan tersebut kemungkinan besar dapat menimbulkan kesalahpahaman dengan pihak lain yang berujung pada konflik yang tidak diiginkan.
 
Masyarakat Jawa dikenal dengan tingkat religius yang tinggi. Jika umumnya kita makan ketupat di hari pertama Idul Fitri atau 1 Syawal, maka warga Tegowanu menyantapnya seminggu kemudian. Baik ketupat buatan rumahan maupun ketupat yang dijual di pasar-pasar tradisional, semuanya baru dibuat menjelang tanggal 8 Syawal. Pemilihan tanggal 8 adalah karena pada tanggal 2-7 Syawal sebagian umat muslim melakukan puasa Syawal. Masyarakat Jawa Tengah menyebutnya bodo kupat atau bodo cilik. Bodo atau ba’da berarti setelah atau selesai. Jadi, kurang lebih artinya adalah kemenangan yang dirayakan dengan makan ketupat setelah berpuasa kecil (6 hari di bulan Syawal). Pada bodo kupat, warga Tegowanu saling berbagi ketupat dan lauknya dengan tetangga sebagai simbol permohonan maaf dan silaturahmi.

Acara silaturahim ini umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa dimana yang muda mengunjungi yang lebih tua. Hal ini mencerminkan pandangan hidup orang Jawa, bahwa orang hidup harus tepa selira, unggah-ungguh (tahu tata krama dan sopan santun). Biasanya yang muda membawa makanan khas ketupat dengan lauk opor ayam yang akan diberikan kepada kerabat yang lebih tua. Makanan ini nantinya akan disantap bersama-sama dengan kerabat. Makanan ketupat inilah yang menjadi ciri khas pada lebaran ketupat, sehingga hampir dipastikan di tiap keluarga masyarakat Tegowanu akan menghidangkan suguhan ketupat dengan lauknya opor ayam dan sambal goreng setiap lebaran ketupat tiba. Selain ketupat, mereka juga saling mengantarkan lepet. Karena ketupat dan lepet memiliki makna filosofis positif yang jika dirangkum menjadi ‘mengakui segala kesalahan dan memohon maaf dengan hati bersih, kemudian mengubur kesalahan tersebut dalam-dalam untuk tidak diulangi, agar persaudaraan semakin erat, tidak ada dendam hingga ajal menjelang’.

Selain filosofi tersebut ada arti filosofi dalam versi lain yaitu ketupat dan lepet. Jika ketupat terbuat dari beras/padi sedangkan Lepet terbuat dari beras ketan. Dari keduanya mempunyai simbul sendiri-sendiri KETUPAT sebagai simbul wanita hal ini bisa kita lihat ketika akan membelah ketupat kita biasanya membelahnya dari arah tengah. Sedangkan LEPET sebagai simbul pria karena bentuknya yang panjang. Disamping itu pada LEPET ada 3 tali yang mengikat sebagai simbul IMAN, ILMU dan AMAL.

Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara berbahan dasar beras yang dibungkus dengan selongsong terbuat dari anyaman daun kelapa (janur). Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa. Makanan ini sudah menjadi makanan khas masyarakat Indonesia dalam menyambut hari Raya Idul Fitri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layanan Aplikasi Di Internet